Kisah Aisyah Mendidik Keponakannya

Aisyah R.A 
Kisah berikut ini menceritakan tentang kehangatan yang didedikasikan oleh Aisyah kepada keponakannya, Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Shiddiq. Dalam Mereka adalah Para Tabi’in, Dr Abdurrahman Ra’at Basya mengisahkan, Qasim merupakan salah satu dari tujuh pakar fikih di Madinah.

Kedekatan tokoh yang lahir pada akhir masa kepemimpinan Utsman bin Affan itu dengan Aisyah berawal ketika sang ayah, Muhammad, yang diutus Ali bin Abi Thalib menjabat sebagai gubernur Mesir saat itu meninggal dunia. Ketika itu api fitnah tengah berembus kencang. Akhirnya, setelah sang paman, Abdurrahman, menjemput Qasim dan saudara perempuannya dijemput dari Mesir, diputuskan mereka berdua tinggal bersama bibinya untuk mendapat asuhan secara langsung. Qasim mengisahkan bagaimana sang bibi merawatnya dengan kasih sayang.

Ternyata belum pernah aku menjumpai seorang ibu dan ayah yang lebih baik dan lebih besar kasih sayangnya daripada beliau. Beliau menyuapi kami dengan tangannya, sedang beliau tidak makan bersama kami. Bila tersisa makanan kami, barulah beliau memakannya. Beliau mengasihi kami seperti seorang ibu yang masih menyusui bayinya.

Beliau memandikan kami, menyisir rambut kami, memberi pakaian-pakaian yang putih bersih. Beliau senantiasa mendorong kami untuk berbuat baik dan melatih kami untuk itu dengan teladannya. Beliau melarang kami melakukan perbuatan jahat dan menyuruh kami meninggalkannya jauh-jauh. Beliau pula yang mengajar kami membaca Alquran dan meriwayatkan hadis-hadis yang bisa kami pahami.

Di hari raya, bertambahlah kasih sayang dan hadiah-hadiahnya untuk kami. Di setiap senja di hari Arafah, beliau memotong rambutku, memandikan aku dan adik perempuanku. Pagi harinya kami diberi baju baru kemudian aku disuruh ke masjid untuk shalat Id. Setelah selesai, aku dikumpulkan bersama adikku kemudian kami makan daging kurban.

Suatu saat, Abdurrahman merasa ia semakin jauh dengan kedua keponakannya tersebut. Perasaan ini pun ditangkap dengan baik oleh Aisyah. Aisyah lantas berkata kepada Abdurrahman,

Wahai saudaraku, aku melihat sepertinya Anda menjauh dari saya sejak saya mengambil dan merawat kedua anak ini. Demi Allah saya melakukannya bukan karena lancang kepada Anda, bukan karena saya menaruh buruk sangka kepada Anda, dan bukan pula lantaran saya tidak percaya bahwa Anda dapat memenuhi hak keduanya. Hanya saja Anda memiliki istri lebih dari satu, sedangkan ketika itu kedua anak kecil ini belum bisa mengurus dirinya sendiri.

Maka saya khawatir jika keduanya dalam keadaan yang tidak disukai dan tidak sedap dalam pandangan istri-istrimu. Sehingga saya merasa lebih berhak untuk memenuhi hak keduanya ketika itu. Namun, sekarang keduanya sudah beranjak remaja dan telah mampu mengurus dirinya sendiri, maka bawalah mereka dan aku serahkan tanggung jawabnya kepada Anda. 

Kehangatan, rasa kasih sayang, didikan, ilmu, dan perhatian yang diberikan Aisyah memberikan kesan yang sangat luar biasa. Hati anak keturunan Abu Bakar ini masih terpaut dengan rumah bibinya, Aisyah. Rindu terhadap lantai rumah yang bercampur dengan kesejukan nabawi. Dia berkembang dan terpelihara oleh perawatan pemilik rumah itu, dia kenyang dalam kasih sayangnya. Oleh sebab itu, dia membagi waktunya antara rumah bibi dan rumah pamannya.

 Suatu hari, aku berkata kepadaku bibiku Aisyah, “Wahai Ibu, tunjukkan kepadaku kubur Nabi Muhammad SAW dan kedua sahabatnya, aku ingin sekali melihatnya.”

Tiga kubur itu berada di dalamnya rumahnya, ditutup dengan sesuatu untuk menghalangi pandangan. Beliau memperlihatkan untuk kami tiga buah makam yang tidak diunggukkan dan tidak pula dicekungkan.

Ketiganya ditaburi kerikil merah seperti yang ditaburkan di halaman masjid. Saya bertanya, “Yang mana makam Rasulullah?” Beliau menunjuk salah satu darinya: “Ini.” Bersamaan dengan itu, dua butir air mata bergulir di pipinya, tetapi segera disekanya agar aku tak melihatnya. Makam Nabi SAW itu agak lebih maju dari makam kedua sahabatnya.

Saya bertanya lagi, “Lalu yang mana makam kakekku, Abu Bakar?” Sambil menunjuk satu kubur beliau berkata, “Yang ini.” Kulihat makam kakekku sejajar dengan letak bahu Rasulullah. Aku berkata, “Yang ini makam Umar?” Beliau menjawab, “Benar.”

Pendidikan dan pengajaran yang dilakukan oleh Aisyah itu berhasil membentuk karakter Qasim. Ia tumbuh sebagai sosok dengan kecerdasan otak dan kesalehan spiritual. Kecintaannya terhadap ilmu sangatlah besar. Ia sangat gemar mendatangi halaqah-halaqah ilmu di Masjid Nabawi. 

Belajar kepada Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Ja’far, Abdullah bin Khabbab, Rafi’ bin Khudaij, Aslam pembantu Umar bin Khathab, dan sebagainya. Hingga pada gilirannya beliau menjadi imam mujtahid dan menjelma menjadi manusia yang paling pandai dalam hal sunah pada zamannya.

Di Masjid Nabawi ia duduk di bekas tempat Umar RA di Raudhah, yakni tempat antara kubur Nabi SAW dan mimbarnya. Selanjutnya berkumpullah murid-muridnya dari segala penjuru untuk menimba ilmu dari sumber yang segar dan bersih, melegakan jiwa-jiwa yang haus akan ilmu.
Sumber: Pusat Data Republika
Kisah Aisyah Mendidik Keponakannya merupakan dokumen sekolah PAUD, RA, TK dan KOBER dan Sekolah SD, SMP, SMA dan SMK Sederajat yang bisa digunakan untuk melengkapi semua keperluan dan kebutuhan administrasi di sekolah, selain itu juga bisa digunakan sebagai bahan perbandingan atau suatu referensi sesuai dengan keperluan di sekolah kita. Lihat juga file-file yang masih perupakan perangkat administrasi guru dan sekolah yang bisa di download dibawah ini:

Administrasi Apliaksi Sekolah

dapodik13

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.

0 Response to "Kisah Aisyah Mendidik Keponakannya"

Post a Comment

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();